Jumat, 05 November 2010

Kisah Sedih Di Sini, Di Kota Ini

Dadaku penuh sesak dan saya rasanya tak menemukan oranag yang tepat untuk curhat selain Dia dan dia. Penciptaku dan seseorang nan jauh di sana. Saya merasa ada sesuatu yang salah dalam sistem yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang tak berperasaan ini. Saya mengatakan tak berperasaan sekalipun orang lain juga mengatakan saya itu tak berperasaan. Jikalau hal itu benar, kenapa masih ada dia, seseorang yang saya kenal dengan segala kerendahan dan kelembutan hatinya yang bisa mengerti sifat dan tabiat dari seorang lelaki perantau ini.


Saya jujur sangat berbeda dari yang lainnya. Mungkin karena teori pekerjaan sosial yang mengatakan kalau manusia itu unik. Jadi saya juga merasa kalau saya itu unik dan berbeda antara satu dan yang lainnya. Ini sangat berbeda dengan cara pandanga saya sebelumnya. Saya berpikir kami itu semua sama dengan segala perbedaan, dan toleransi yang kelewatan pun saya setujui. Namun kali ini tidak. Ada sesuatu yang ganjil dan aneh dalam sebuah sistem kehidupan yang saya jalani saat ini. Sungguh bertentangan dengan pribadiku.

Apa sebenarnya yang membuat saya seperti ini? Apakah karena terlalu banyak obsesi dan harapan-harapan yang tak kunjung terpenuhi? Atau malah hanya sebuah defend mechanism dari dalam diri yang penuh dengan dosa ini? Sungguh otak saya tak mampu menampung semua ini.

Minggu lalu, saya niat mencari tiket pulang ke Makassar, untuk 3 hari, karena ada urusan yang cukup penting yang harus saya selesaika disana. Saya ke tempat penjualan tiket di Prima Riau Holiday, di depan pasar Simpang Dago, Bandung. Memang pelayan disana itu ramah-ramah, namun ada 1 orang yang berjanggut yang dari dulu sejak langganan disana sudah sangat menjengkelkan. Sangat mudah memancing emosi pembelinya. Dia itu sangat jutek dengan segala keangkuhannya sebagai penjual tiket yang saya taksir gajinya hanya 1 jutaan lah, tak sampai 2 juta. Lagaknya sudah kayak pengusaha yang sangat kaya dengan sikap yang tidak butuh kepada koleganya yang hanya bisa menanamkan mmodal kecil. Sangat sombong. Saat itu saya menanyaka harga tiket garuda untuk sekali jalan, namun masih di harga 3 jutaan. Berikutnya Lion Air masih 1 jutaan, saya bertanya Merpati juga sama 1 jutaan. Pasa saya tanya lagi pesawat lain, dia langsung memasang muka juteknya dan megatakan kalau harga tiket itu sama saja. Saya spontan marah dan langsung mengungkapkan uneg-uneg saya selama kurang lebih 1 tahun saya pendam. Hanya untuk Si Penjual tiket yang angkuh itu.

Cerita lainnya ini, saya sudah tidak begitu kerasan dalam sebuah organisasi yang saya anggap sebagai sebuah organisasi yang sangat bagus dengan segala jenis keilmuan dapat saya temukan disana. Namun setelah saya bergelut selama satu tahun, ternyata saya salah. Dan terjadilah hal serupa seperti di penjual tiket tadi. Sangat saya hindari kejadian itu namun inilah saya. Saya percaya diri dengan apa yang saya miliki dengan segala sifat-sifat saya. Untuk merubahnya butuh waktu sahabat.

Saya pernah bertanya pada dosen saya, jika kita hendak membuat sesuatu itu berwarna hijau, apakah kita sebaiknya mengecat seluruh yang kita lihat menjadi hijau, atau justru kita yang harus pakai kacamata hijau. Pertanyaan ini saya layangkan juga buat sahat-sahabat semua. Mohon bantuannya. Inilah saya.

Saya sangat merindukan hal-hal seperti ini...


Atau mungkin yang seperti ini...



Ini semua bisa terulang kembali dan saya awali dengan membentuk sebuah kelompok kecil bersama sahabat-sahabat saya sekarang di kelas 2C



Mengulang seperti yang dulu...



Atau bahkan seperti ini, bersama sahabat...



Andaikan...

4 komentar:

si biskut mengatakan...

sungguh kamu punya pertalian yang cukup menarik.andaian pengalaman study jauh dari kampung halaman menjadikan kamu cukup peka dengan apa yang terjadi.mungkin kamu unik dan perbedaan itu terletak pada cara kamu mengolah mindamu.

kisah abu nawas mengatakan...

pengalaman yang mengesankan sob

Ferdys mengatakan...

begini sob.... ketika kita ingin sesuatu itu berwarna hijau, kita ubah seolah2 sesuatu tersebut berwarna hijau.... atau berkhayal kalau sesuatu itu berwarna hijau... kenapa? karena setiap org yang kita temui itu memiliki karakter yang unik dan berbeda dr yang lainnya... ketika kita berharap org lain bs menerima kekurangan kita..
Maka kita harus terlebih dahulu menerima kekurangan org lain tersebut....
gt sob semoga membantu...
oy jangan terlalu melankolis gt lah....

coba buka link ini
http://ferdys-aja.blogspot.com/p/pemberian-award.html

Muhni mengatakan...

si biskut: mungkin saya belum cukup peka, namun 3 semster ini menjadikan saya banyak belajar untuk peka...

kisah abu nawas: cukup membuat saya menjadi Muhni sejati, muhni si anak makassar

ferdys: karakter itu yng saya maksud sebagai kacamata hijau. mudah2an saya bisa belajar menerima perbedaan itu. namun, sampai detik ini saya masih saja terus menerima, tapi saya sndiri tidak cukup unutk membuat nyaman diri saya..

but, untung ada teman2 seperti di kelas 2 C itu...

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berkunjung Ke Blog Saya

"Magical Template" designed by Blogger Buster