Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

Cara Bijak Menghukum Anak

Tulisanku kali ini saya mengutip dari sebuah artikel yang dulunya pernah saya tempel di mading sekolah. Saya membuka-buka berkas lama, kertas-kertas tua yang saya simpan, dan ternyata sekarang saya semangat lagi untuk mempostingnya disini.

Judulnya cara bijak menghukum anak. Banyak orang tua cenderung menerapkan hukuman saat anaknya nakal atau berbuat salah. Padahal, hukuman yang tidak tepat bisa sangat merugikan anak.



http://www.ahliwasir.com/news/754/Cara-Paling-Efektif-Menghukum-Anak


Sebenarnya, punishment bukan cara yang paling baik dalam mendidik anak. Yang paling baik, anak diajak bicara dan dibuat mengerti. Bila dari awal hal ini dilakukan, maka tak perlu ada hukuman. Dengan kata-kata saja, anak bisa sadar kalau dirinya salah. Bahkan pada anak-anak yang sejak awal selalu diberi penjelasan yang cukup, ia pun akan gampang diajak bicara, maka sampai besar pun kalau ia membuat kesalahan akan mengaku sendiri tanpa orang tuanya perlu memberi hukuman.

Umumnya ada dua alasan orang tua menghukum anaknya: Pertama, orang tua punya target atau standar tingkah laku untuk anaknya, tetapi standar itu tidak dilakukan oleh anaknya. Kedua, ada tingkah laku tertentu yang biasa dilakukan oleh anak yang ingin dihentikan oleh orang tuanya. Bisa jadi, tingkah laku itu baik, tetapi karena berlebihan, jadi harus dihentikan. Selain itu, tak jarang pula, orang tua menghukum anaknya lantaran tak punya alternatif lain untuk menghentikan tingkah laku anak. Ini namanya orang tua yang tidak kreatif.

Tujuan Menghukum Anak
Sebetulnya ada tiga tujuan yang harus dipahami orang tua ketika menghukum anak.

1. Penegakan Aturan
Anak harus tahu bahwa setiap rumah tangga memiliki aturan yang wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, termasuk dirinya. Mereka yang melanggar aturan tersebut tentunya patut dihukum.

2. Pendidikan
Artinya hukuman yang diberikan bukan semata-mata bertujuan menghakimi si pelanggar aturan, melainkan juga menyampaikan misi pendidikan, mengenalkan mana yang salah dan mana yang benar pada anak.

3. Motivasi
Setiap hukuman harus disertai penjelasan bahwa tindakan anak yang salah harus diperbaiki dan tidak boleh diulangi lagi dikemudian hari.

Rambu-Rambu Menghukum
Nah, agar hukuman yang diberikan berjalan efektif, tidak kelewatan ringan maupun kelewat batas, maka harus diperhatikan rambu-rambunya.

Sesuai Kadar Kesalahan
Andai kesalahannya tergolong ringan, semisal lupa mencuci tangan saat mengambil makanan. Maka contoh hukuman yang baik adalah dengan tidak mengizinkan menyentuh makanan sebelum mencuci tangan. Sebaliknya bila kesalahan tergolong berat, misalnya merokok, maka hukumannya perlu diperberat, misalnya dengan tidak memberinya uang jajan.

Harus Cukup Signifikan
Artinya, perbuatan yang dilakukan anak dan konsekuensi yang diterimanya harus seimbang. Jadi anak bisa melihat langsung dampak perbuatannya dengan hukuman yang ia terima, sehingga hukuman pun menjadi efektif. Misalnya, si kecil terlalu lama menonton TV, lalu dihukum masuk kamar. Hukuman ini tak akan berpengaruh secara psikologis, dibanding jika orang tua menghukum anak tak boleh nonton TV selama seminggu. Ia melihat bahwa konsekuensi dari perbuatannya berdampak tak mengenakkan baginya.

Harus Konsisten
Kalau suatu saat kita menerapkan aturan, "Kamu tidak boleh nonton TV sebelum mengerjakan PR", maka penegasan tersebut harus berlaku dalam kondisi apapun.

Jangan Berlebihan
Hukuman yang diberikan secara berlebihan hanya akan membuat anak merasa disakiti, sementara ia sama sekali tidak mendapat pelajaran apapun dari kesalahan yang telah dilakukannya. Bukan cuma itu, anak pun akan merasa diperlakukan tidak adil sehingga memupuk keinginan untuk memberontak. Dengan kata lain, tujuan dengan adanya perubahan perilaku yang diharapkan dengan pemberian hukuman tersebut tidak tercapai.

Tidak Bersifat Fisik yang Menyakiti
Menyakiti fisik bukan cara yang tepat untuk memberikan motivasi dan penghargaan. Contohnya, dengan mengurungnya dalam kamar mandi. Hukuman seperti itu sama sekali tidak akan membuat anak jera dan menghentikan aktivitas negatifnya. Ia hanya akan bertanya-tanya, kenapa saya diperlakukan seperti ini? Apakah merokok itu salah? Bagaimana jika ayah dan ibunya juga perokok? Ujung-ujungnya, motivasi anak untuk meninggalkan perbuatannya sulit diharapkan.

Tidak Mempermalukan Anak Di Depan Umum
Kerap terjadi, ketika menghukum anaknya, orang tua kerap lupa memperhatikan lingkungan sekitar atau justru menghukumnya dengan cara memperlihatkannya di depan umum. Akibatnya muncul masalah baru yakni perasaan rendah diri pada anak. Sementara masalah yang membuat anak dihukum malah tidak terselesaikan.

Tidak Menyerang Pribadi Anak
Hukuman harus diberikan secara fokus pada kesalahan yang telah diperbuatnyaagar bisa diperbaiki jangan menyerang atau menghakimi dirinya secara pribadi, misalnya menyebut anak dengan kata-kata seperti pemalas, nakal, tidak bisa diatur, jorok, jelek, penyakitan atau kata-kata sejenisnya.

Bersifat Konstruktif
Hukuman harus mampu membuat anak lebih peka dan terbangkitkan hati nuraninya. Konkretnya, anak akan menjadi paham mana tindakan yang salah dan perlu dihukum, mana pula yang tidak. Dengan begitu, anak bisa menghindari kesalahan yang pernah dilakukannya dengan mengontrol sendiri perilakunya.

Bisa Dikomunikasikan
Sampaikan pada anak apa kira-kira bentuk hukuman yang akan diterimanya jika melakukan kesalahan tertentu. Saata atau setelah menghukum anak oun kita harus mengkomunikasikan kenapa dia dihukum. Penjelasan semacam ini sangat dibutuhkan, sehingga anak tahu persis alasan kenapa dia dihukum.

Beberapa cara-cara di atas mudah-mudahan bisa menyadarkan dan meberikan hidayah kepada para orang tua yang masih sering menghukum anaknya dengan cara yang tidak bijak.
Salam Semangat dari Kaluku Lolo

Selengkapnya...

Selasa, 19 Oktober 2010

Gengsi Overload, WAH...!!!

Hari ini, 18 Oktober 2010, saya mulai kuliah, dan seperti kebiasaan saya, Tas besarku kubawa. Di dalam tas itu saya membawa semua jenis barang yang mungkin akan berguna di waktu-waktu yang tidak terduga. Payung misalnya. Payung saya itu beukuran kecil, ukuran satu oranglah. Dan saya beli di Borma, harganya sudah lupa. Dst.
Payung saya itu berwarna biru dengan motif kotak-kotak dengan garis hitam yang dikombinasi dengan putih. Gagangnya besi dan pegangannya dari plastik yang dicat seperti kayu, dengan tali 10 cm terlipat dua sebagai gantungan atau mungkin juga Cuma hiasan. Dst.

Saya kuliah dari jam 07.00 di jadwalnya namun baru mulai jam 08.05, dan termasuk sudah cepat itu, biasanya lebih telat lagi. Setelah kuliah sampai jam 09.30, saya langsung online di lab. Komputer, yang lebih tepatnya saya bilang sebagai warnet murah yang ada di dalam kampus. Saya online sampai jam 12.00 bersama senior saya Alamsyah, sampai masuk waktu Dzuhur. Setelah Dzuhur hal ini dimulai.

Setelah sholat saya dan senior saya langsung pulang dengan keadaan hujan. Keadaan itu memaksa saya mengeluarkan payung kecilku. Seniorku malu untuk menggunakannya, namun sepertinya terpaksa dan tetap saja kami berjalan keluar ke gerbang melintasi jalan keluar kampus menyusuri lapangan yang besar dengan perasaan malu menggunakan payung saat hujan.

Gengsi semacam ini sangat mengganggu kehidupan anak muda sekarang, khususnya saya ya. mungkin saja orang lain tidak. Saya sangat tidak setuju dan sependapat untuk gergengsi-gengsian dalam hal yang sangat sepele seperti ini. Karena hal ini akan membuat mental kita jatuh dan tidak lagi bermental pesaing. Itulah yang terjadi. Banyak hal-hal yang seharusnya tidak kita malu, namun kita malu dalam melakukan itu. Dan ada juga yang seharusnya kita malu, namun kita tidak malu melakukannya, pacaran misalnya.

Memakai payung merupakan hal yang sangat sepele dan sangat membantu kita agar kita tidak basah, apalagi di dalam tas saya itu, ada barang elektronik yang bisa saja rusak jika kehujanan. Sangat sensitiv dan sangat anti-air. Oleh karena itu, saya mengaharapka kepada teman-teman semua, kalau gengsi itu sebaiknya dikurangi atau dihilangkan saja untuk hal-hal yang tidak penting. Dalam hal ini, tempatkanlah gengsimu sesuai dengan tempatnya dan seharusnya.
Semoga semuanya baik-baik saja.^^

Selengkapnya...

Sabtu, 18 September 2010

VMJ



Semalam (21/4), saya berbincang dengan senior saya tentang Cinta. Menurut dia cinta itu sulit di tebak, kadang bisa dirasakan sebelumnya, namun kadang juga hanya bisa dirasakan pada saat itu juga. Sungguh sulit tertebak. Dalam hal ini, orang-orang seperti ini memang benar, namun bisa juga salah, namanya juga cinta sulit di tebak. Hehe
Dalam tulisan saya kali ini yang saya anggap masih sangat perlu diperbaiki, saya melihat kalau cinta itu muncul karena adanya rasa. Entah rasa apa itu. Benci, suka, senang, kagum, terpesona, atau apalah, yang jelas rasa. Saat rasa ini masuk ke dalam pikiran seseorang, dalam hal ini orang yang akan terkena sebuah perasaan aneh bernama cinta, maka rasa ini akan segera mempengaruhi perasaan orang tersebut. Bagaimanapun caranya, yang jelas orang tersebut terpengaruh. Cepat atau lambat. Yah bisa dibilang hal ini terjadi pada orang-orang saja, tetapi hal ini saya rasakan juga. Hehe. Cinta itu timbul dari perasaan itu. Perasaan itu bermula dari pikiran tadi. Ketika dalam perasaan seseorang itu kembali ke pikiran dan mencoba memikirkan arti dari rasa yang dia rasakan sekarang, maka secara manusiawi, tidak akan ada yang bisa merealisasikan perasaan yang muncul itu dalam sebuah tindakan nyata, positif atau negatif. Bicara cinta saja, orang-orang tertentu bisa terpancing dan bisa timbul juga cinnta dalam hatinya saat itu juga, namun seperti yang saya katakan, cinta ini tidak angsung muncul ke permukaan, butuh waktu dan proses, seiring berjalannya waktu, dan tentunya membutuhkan reinforcement.Terkadang orang-orang hanya melihat dari reinforment-reinforcement ini saja yang menyebabkan munculnya cinta padahal, cinta itu muncul sudah sejak lama. Dilihat dari sebab awalnya, rasa.

Berbicara tentang Virus Merah Jambu, ini bisa mempengaruhi siapa saja, dimana saja, kapan saja, de el el, karena memang hakikatnya begitu. Tidak ada hati yang bisa berbohong, kebanyakan itu hanya bentuk kamuflase dari kesombongan dan keangkuhan, satu lagi “gengsi gede-gedean”. Hehe. Kalau virus ini menginfeksi seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, maka akan menimbulkan sesuatu yang kita semua sering lihat dan tentunya tidak kita harapkan. Namun, jika virus ini ditangkap dan diadopsi oleh orang yang tepat dan benar-benar siap untuk dipengaruhi oleh VMJ, maka akan tepat dan berujung pada sesuatu yang membahagiakan dan sesuai harapan. Harapan yang positif tentunya. Dan saya harap tidak ada yang berharap negatif. Negatif itu dorongan setan saja. Virus ini menginfeksi seluruh bagian dari seorang manusia, fisik dan mental, di tunjukkan dengan berbagai macam perilaku yang berbeda dari setiap individu. Perilaku ini yang akan menginformasikan kepada kita semua dengan jelas, dan tidak mungkin berbohong, tentang bagaimana orang tersebut mengelola VMJ ini.
VMJ ini seperti namanya, adalah sebuah virus, sebenarnya tidak perlu di musnahkan, dan tidak perlu diobati. Hanya memerlukan antibodi yang kebal terhadap pengaruh negatif yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam sebuah lembah yang hanya bisa bisa dilihat dan dirasakan oleh hantu-hantu buta dan bisu. Betapa beruntungnya kita sekarang yang merasa belum dekat-dekat dengan lembah itu. Antibodi ini akan sangat cocok untuk anak muda sekarang yang cenderung lebih cepat mengenal dan terinfeksi oleh virus ini. Tetapi pertanyaannya kemuadian yang muncul, maukah mereka mendapatkan antibodi yang harganya tidak mahal, dan bahkan mungkin bisa setiap saat diperoleh dengan gratis jika mau dan ada penyedianya. Penyedia antibodi ini ada di dalam tempat-tempat yang mengajarkan tentang baiknya dan bagaimana cara kita bergaul dengan seseorang khususnya lawan jenis, dan hijab antara laki-laki dan perempuan. Hati-hati saja dengan beberapa antibodi yang sudah terinfeksi juga dengan virus yang lebih mematikan dan menyesatkan, yaitu liberalisasi. Ini lebih berbahanya daripada yang kita semua bayangkan. Tidak akan saya bahas di sini, maklum saja, belum dapat bahannya dan memang tidak cocok dengan materi kali ini. Untuk memperjelas masalah VMJ yang menyerang anak muda ini akan lebih jelas jika kita mengambil satu contoh, misalnya si A. A adalah orang yang pintar dan bersahaja. Dia dikagumi oleh seorang wanita namanya B. B ini kagum dan merasa kalau dia itu terserang VMJ. Apakah betul dia terserang VMJ ini? Atau itu merupakan perasaannya saja? Ini yang perlu kita limitasi. Mungkin saja ini bukan VMJ, tetapi awal dari itu, rasa. Saya tadi mengungkapkan kalau rasa ini berbagai macam, bisa menimbulkan bermacam-macam bentuk pengekspresian. Ada juga rasa yang tinggal dalam hati orang yang Cuma beberapa hari, atau mungkin beberapa jam saja. Sangat aksidental. Kalau itu dirasa merupakan awal dari cinta, maka tentu saja sudah bisa dipastikan kalau itu hanya rasa biasa saja. Mengapa demikian? Rasa yang menimbulkan cinta itu, bertahan lama dalam perasaan seseorang. Yang akan di proses menjadi sebuah cinta.
Cinta itu benar-benar rumit. Rumit disini tidak dalam artian serumit rangkaian chip, PCB, dll, tetapi rumit untuk dibahas, karena ini merupakan sebuah hal yang sangat sulit ditebak dan berbeda-beda pada setiap orang. Oleh karena itu, pahamilah diri Anda, karena sesungguhnya hanya Anda yang bisa memahaminya sendiri, tanpa harus menceritakan secara detil kepada orang lain. Ari Ginanjar bilang, “Anda adalah raja dari pikiran Anda”. Ini merupakan cara Anda untuk mempermudah Anda untuk mengetahui Cinta (VMJ) itu sudah ada pada diri Anda. Namun, hakikat cinta ada sejak kita lahir ke dunia.
Selengkapnya...

Jumat, 10 September 2010

Di Hari Lebaranku 1431 H




Tahun ini 1431 H, pada bulan Ramadhan sya sepertinya tidak terlalu merasakan efek berpuasa, karena mungkin ada banyak teman-teman di asrama yang setiap hari menghibur dan melaksanakan aktivitas yang sangat variatif dengan berbagai karakter. Begitulah kehidupan di asrama, semuanya berwarna-menurut saya juga tergantung orangnya yang bisa memberi warna pada setiap kehidupannya.
Lebaran sebuah kata yang sangat identik dengan MUDIK, yang menurut saya itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang beruntung. Namun bukan berarti yang tidak mudik itu tidak beruntung, karena dalam konteksnya yang berbeda dan tentunya bisa melihat hal itu dari sisi lain. Seperti saya, yang tahun ini tidak mudik ke Makassar dan tetap lebaran di Dago-Bandung-.


Sebuah kata yang sangat kunantikan dari orang-orang terdekatku yang amat kucintai-Insya Allah karena Allah-yang bisa membuat aku tersenyum-walaupun dalam ekspresi yang meneteskan air mata-dan membuat saya sangat bahagia-mudah-mudahan bahagia lahir batin. Inii yang saya tunjukkan pada hari nan fitri ini. Sungguh mengharukan rasanya ketika saya mengatakan kepada ibuku "pammopporanga", sebuah kata yang sangat sakral bagiku-yang selalu kukatakan setiap kali saya melakukan kesalahan-termasuk di hari yang berbahagia ini.
tanpa opor ayam buatan ibuku-ayam olahan lain ada sich-yang selalu membangkitkan selera makanku. Pulang lebaran, Tak ada kata halal bil halal dulu, pokoknya abis lebaran, salam kanan kiri, pulang minta maaf ke ibu bapak, dan saudara, langsung nyantap hidangan lebaran, namun kali ini tak eperti itu, sunggu beda lebaran di kampung orang dengan lebaran di kampung halaman. To be continue...
Selengkapnya...

Minggu, 18 April 2010

Membenarkan Kebiasaan yang Belum Tentu Benar



Kebetulan tadi malam (17/4) saya mencoba ngutak-ngatik blog saya di bantu oleh senior saya. Karena menggunakan modem, yang sudah umum di Asrama Putra Induk STKS Bandung itu sinyalnya kurang, jadi kita berdua naik ke menara air, kebetulan di depan asrama tempat tinggi dan strategis hanya itu. 1 jam kami di atas situ mengedit segala macamnya tentang blog ini, suasana masih sunyi, biasanya juga ramai pada hari-hari biasa, berhubung karena malam minggu dan kebetulan di kampus ada acara seni DST, jadi masih agak sepi. Tapi setelah sekitar jam 11an, teman-teman semua sudah pulang dari kegiatan rutin mereka pada malam minggu (maklum saja anak muda), mereka-mereka itu melihat saya dan senior saya yang sedang serius menulis dan menatap laptop, di tengah gelapnya dago pojok. Karena mereka menganggap itu sebuah pemandangan yang ganjil, ketika ada orang belajar hal-hal yang positif, meskipun saya sadar kalau tempatnya mungkin tidak tepat, tapi itu merupakan sebuah hal yang mereka tetap saja menganggapnya nggak biasa. Saya berbisik ke senior itu, “kayaknya ada yang aneh deh....”. tapi dia cuek saja, meskipun tak lama setelah itu kami turun dari menara itu.

Gambaran anak muda sekarang ini, dikaitkan dengan materi kuliah yang belakangan ini sering saya gembar-gemborkan belakangan ini, psikologi perkembangan: tugas perkembangan dewasa awal, mereka itu cenderung untuk melakukan tugas perkembangannya secara teoritis, namun mereka belum bisa untuk melaksanakan dan mengaplikasikan hijab-hijab yang sudah ditentukan. Ketika mereka berdua dengan pacar mereka yang sebagaimana kita lihat kehidupan bandung, maka mereka akan melihat itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja (bukan mengeneralisir, cuma kejadian di asrama saja), dan alangkah anehnya ketika ada orang yang belajar dan ingin tahu sesuatu, namun itu tidak sesuai dengan pandangan mereka, padahal hal itu benar. Benar kata Dedi Mizwar, Alangkah Lucunya Dunia Ini, karena memang ada sesuatu yang melekat pada diri kita yang belum bisa kita sesuaikan dengan buda kita seharusnya. Mereka cenderung membenarkan tindakan-tindakan yang mereka anggap sering mereka lihat, dan belum tentu hal itu yang di benarkan, dilihat dari perspektif budaya dan agama (khususnya Islam).
Ketika pun mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang baik maka terang saja mereka akan memandang itu secara miring, bukan berarti miring apaan, tetapi mirng versi mereka sendiri. Kalau saya bisa menyarankan kepada pembaca sekalian, benar apa kata seior saya yang fotonya terpampang di mading rehsos yang mengutip sebuah slogan yang sudah agak usang namun tetap berarti, jangan menilai seseorang dari luarnya....
Sekian.


Selengkapnya...

Rabu, 14 April 2010

Mulut yang "BAU" Cerminan Hati Ini

Setiap manusia mempunyai perasaan yang sangat peka dan mempunyai tingkat perasa yang berbeda-beda. Perasaan ini sangat penting untuk dijaga dan diperhatikan jika melakukan interaksi dengan orang lain. Orang yang menjadi lawan bicara kita, selalu saja bisa menangkap maksud perkataan kita, baik itu dari segi materi pembicaraan, maupun maksud pembicaraan dari gaya bahasa dan cara berbicaranya. Oleh karena itu, yang perlu kita ingat adalah BAGAIMANA CARA MENGEMUKAKAN SESUATU YANG BAIK KEPADA ORANG LAIN.
Dalam ilmu psikologi, cara bicara seseorang bisa mencerminkan perasaan dan hati seorang pembicaranya. Jika pembicaraannya baik, maka banyak sedikitnya materi pembicaraan itu, pasti bisa dia amalkan. Begitu juga sebaliknya, jika materi dan bahan pembicaraannya tidak baik, maka banyak sedikitnya materi pembicaraannya itu, akan secara langsung maupun tidak langsung tercermin kepada perbuatannya, baik disengaja maupun tidak disengaja.



Hati dan pikiran (dalam hal ini otak) yang mampu mengolah segala bentuk hasil pembicaraan yang dibicarakan, akan sangat berpengaruh terhadap output atau respon dari lawan bicara. Jika lawan bicara yang kita ajak bicara sangat antusias mendengarkan pembicaraan kita, maka ini akan menjadi pembicaraan yang menarik antara keduanya. Maka pembicaraan tersebut masih sesuai dengan kepribadian dan tidak bertentangan dengan perasaan keduanya. Namun, jika salah satu lawan bicara kita sudah menunjukka perasaan dan perilaku yang berbeda dari biasanya, dalam hal ini sudah tidak memperhatikan lagi materi maupun maksud dan gaya bicara kita, maka pastikanlah ada sesuatu yang salah atau kurang berkenan dengan hati atau perasaan lawan bicara kita. Hal ini tentu tidak sesuai dengan harapan pembicaraan yang diinginkan oleh lawan bicara kita.
Saya sangat memperhatikan hal-hal tersebut dalam proses-proses yang saya lakukan sehari-hari dalam aktivitas kampus, organisasi, masyarakat, maupun di kamar asrama saya sendiri. Semua itu merupakan tempat saya bersosialisasi sehari-hari. Dalam proses-proses yang terjadi itu, saya melihat adanya bebrapa hal yang kurang bisa dimengerti oleh mereka terhadap apa yang saya maksud di atas. Mereka terkadang sudah melakukan sesuatu yang menurut saya sudah tidak saya sukai (versi saya) namun ini tetap saja berlanjut dalam proses sosialisasi tersebut. Proses ini berlangsung dalam waktu yang masih sebentar namun bisa saja terjadi dalam waktu yang lama ke depan. Untuk menjadikan hal tersebut kembali dalam koridor yang kedua belah pihak anggap sesuai dengan nilai yang berlaku dalam diri mereka sendiri selama belum melanggar nilai-nilai yang berlaku yang lebih luas lagi, maka diperlukan kesadaran pribadi masing-masing. Mungkin saja dengan membaca postingan ini, setiap pribadi-pribadi yang merasa bersosialisasi dengan orang lain, dapat memperhatikan materi dan cara bicaranya, karena mulut yang “bau”, bisa menjadi tolak ukur seseorang terhadap diri kita.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam tulisan ini, terdapat kesalahan. Sekian.

Selengkapnya...

Terima Kasih Telah Berkunjung Ke Blog Saya

"Magical Template" designed by Blogger Buster